POPULASI Badak di Indonesia terancam punah. Penyusutan hewan yang dilindungi itu, akibat pemburuan liar yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang motivasinya hanya untuk kepentingan kekayaan pribadi.
Selain ulah pemburu liar yang ‘bermuka badak’, punahnya Badak di Indonesia akibat dari lemahnya petugas dalam melakukan pengawasan, pengamanan dan perlindungan satwa yang dilindungi itu. Juga kepedulian masyarakat di sekitar hutan terhadap hewan ini, kurang mendapat perhatian serius.
Diperkirakan populasi Badak Sumatera kini hanya tinggal antara 250 sampai 300 ekor. Satwa bertubuh tambun berkulit keras itu, terkonsentrasi di Taman Nasional Gunung Lauser dan Bukit Barisan.
Padahal,
Begitu pula Badak Jawa Bercula Satu di Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan populasinya terus menyusut. Padahal tahun 2007, populasi badak bercula satu mencapai 50 ekor. Namun kini jumlah sebanyak itu disinyalir sudah tidak lengkap lagi.
Jika badak Indonesia mengalami kepunahan, menghilang, menyusut jumlahnya, maka kondisi ini jelas berdampak buruk bagi Indonesia, yang dimata duniaakan dianggap sebagai negara yang tidak mampu melindungi satwa yang dilindungi, tidak becus melestarikan satwa yang selalu hidup menyendiri. tidak serius menyelematkan satwa yang selama ini hidup bebas di alam belantara dan tidak awas dalam pengawasan dan pengamanan badak
Jumat, Desember 12, 2008
POPULASI BADAK PUN MENYUSUT
Kamis, Desember 04, 2008
ATRAKSI WISATA MAKIN DIJAUHI WISATAWAN
SOROTAN PARIWISATA :
Pasalnya, atraksi wisata yang diharapkan menyedot wisatawan lokal, nasional sekaligus mengharapkan kedatangan wisatawan internasional, ternyata berubah seratus delapan puluh derajat.
Jumlah pengunjung atau wisatawan lokal yang datang menyaksikan atraksi itu terus berkurang, kurang memuaskan dari sisi pengunjungnya. Begitu juga wisatawan nasional pun tak kelihatan batang hidungnya dan jika ada paling-paling undangan panitia yang mendapatkan fasilitas. Apalagi wisatawan mancanegaranya jangan harap datang. Menyedihkan memang.
Pantauan W
isatanews selama tahun 2008, seperti Festival Krakatau di Lampung, Festival Musi di Palembang, Gebyar Wisata Banten di Tanggerang, Festival Singkawang Kalimantan Barat dan terakhir Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Jambi, kondisinya memprihatinkan dari sisi pengunjung, wisatawan.
Meski atraksi digelar secara gratis, namun tidak semarak lagi dari sisi pengunjungnya. Sepi. Tak ada perhatian, apakah sudah dijauhi masyarakat yang kategori wisatawan lokal? Memang itulah kondisi yang ada di masyarakat kita sekarang ini.
Sepinya pengunjung wisatawan lokal, terjadi karena berbagai alasan. Umumnya atraksi wisata itu terkesan monoton, membosankan, menjenuhkan karena tidak ada variasi sajian yang menarik. Juga, tak ada atraksi yang membuat ketertarikan orang untuk ketagihan datang.
Monoton lantaran atraksi yang disajikan tahun ini, seperti penyajian tahun-tahun sebelumnya bahkan malah lebih jelek lagi. Membosankan karena sebelum atraksi wisata digelar, sambutan panitia, kepala daerah sampai menteri yang dinilai sangat panjang dan makan waktu. ''Ini atraksi wisata atau kampanye pejabat mendekati pemilu,'' celetuk seorang pengunjung saat menyaksikan pembukaan Festival Krakatau di Lampung.
Menjenuhkan lantaran atraksi wisata ya itu-itu saja. Buktinya, pada Festival Krakatau tarian yang ditampilkan semuanya hampir tari topeng, apa tak ada tarian lain. Padahal bisa saja Pemda Lampung mendatangkan tarian Barongsai, Reog Ponorogo, drum band tradisional ala Bali dan kesenian daerah lain 
Begitu juga, saat menghadiri Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Jambi yang dulu sangat dielu-elukan wisatawan lokal. Tahun 2007, antusias masyarakat untuk menyaksikan pagelaran budaya daerah itu cukup tinggi. Selama sepekan berlangsung acara atraksi itu selalu dipadati pengunjung. Namun kata padat itu, untuk tahun 2008 jangan harap ada lagi.
Di sisi wisatawan nasional dan turis asing yang tak datang, ya karena promosinya nggak ada bagaimana bisa menarik kunjungan turis. Promosi, publikasi sekali dua kali itu jelas tak akan membekas, tak akan mengingatkan wisatawan. Apalagi promosi itu cuma dilakukan di tingkat daerah atau propinsi, maka jangan harap mendapat lebih.
Seharusnya, promosi itu dilakukan setahun sebelum atraksi wisata digelar kemudian dilanjutkan sebulan sekali dengan menampilan informasi berbeda tentang perkembangan atraksi wisata itu. Memang yang terjadi selama ini, sebulan sebelum atraksi wisata digelar panitia daerah sibuk tak jelas apa yang dikerjakan. Jadi bagaimana mencitpakan image event itu.
Terus terang, atraksi wisata itu mengeluarkan dana yang cukup besar. Sayangnya pengeluaran anggaran besar itu tidak diimbangi dengan feedback yang besar pula. Malah event atraksi wisata yang digelar saat ini terkesan hanya menghambur-hamburkan dana. Kalau ini yang terjadi, menyedihkan sekali.
Bagaimana di tingkat pusat, yakni Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang menangani, memonitor kemajuan pariwisata se Indonesia nampaknya juga kurang giat, kurang aktif, kurang peduli dalam ikut membantu promosi atraksi wisata di daerah. Kalau sudah demikian, bagaimana pariwisata
Rabu, Desember 03, 2008
OMSET WISMAN KE JAKARTA ANJLOK

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat peningkatan kedatangan turis asing yang masuk ke Jakarta melalui tiga pintu utama, seperti Bandara Soekarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, dan Bandara Halim Perdana Kusuma.
Peningkatan jumlah wisman terjadi karena kekuatan industri pariwisata seperti pusat pasar yang terkonsentrasi, faktor investasi asing, dan keamanan. Sayangnya kdibalik kenaikan ada penurunan hingga 20 persen. Hal ini terjadi akibat krisis global yang melanda dunia. Sehingga, berdampak pada mahalnya harga makanan dan minuman seperti wine (anggur)
Seperti wisatawan yang datang ke
SUMBAWA, KAYA GEOWISATA MISKIN PROMOSI

Nama geowisata memang masih asing di telinga penduduk Indonesia. Istilah kurang populer, kurang ngetop dibandingkan dengan ekowisata. Padahal di Amerika Serikat, geowisata identik dengan ekowisata.
Bahkan, belahan dunia lain geowisata ditempatkan sebagai bagian dari wisata alam minat khusus yang prinsipnya mengikuti kaedah-kaedah ekowisata dan geowisata, sebagai bagian dari ekowisata harus tunduk pada prinsip-prinsip berwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Apalagi kecenderungan wisata kembali ke alam atau "back to nature" memberikan peluang pemberdayaan potensi fenomena alam geologi sebagai tujuan wisata alternatif. Dan Geowisata sebagai salah satu kegiatan wisata alam merupakan suatu konsep wisata yang ramah lingkungan, menyuguhkan pemahaman proses kebumian yang berhubungan dengan keunikan dan kelangkaan fenomena alam tersebut sebagai sebuah daya tarik wisata.
Memang penyelenggaraan wisata alam geologi ini memerlukan panduan, pengaturan dan pengawasan yang memadai untuk menjamin keselamatan, kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan jenis geowisata ini.
Untuk menggapai itu, Sumbawa kini berjuang keras. Berbagai langkah ditempuh dengan start dari awal yakni melakukan inventarisasi. Hasilnya di Sumbawa terdapat 10 titik lokasi geologi yang memiliki potensi geowisata, yakni Pantai Batugong di Desa Labuan Badas, Kecamatan Badas dan air terjun Aikbeling di Dusun Kuangmo, Desa Sempe, Kecamatan Moyohulu.
Selain itu, geowisata perbukitan Tarakini di Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang, Air Terjun Tebamurin di Dusun Brangrea, Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang dan obyek wisata Liang (goa) Petang di Desa Batutering, Kecamatan Moyohulu.
Potenasi geologi lainnya adalah Pantai Tanjung Menangis di Dusun Omo, Desa Panyaring, Kecamatan Moyohilir, mataair panas di Dusun Simu, Desa Maronge, Kecamatan Lape Lopok, air terjun Mata Jitu di di Pulau Moyo, Goa Tanjung Pasir dan Goa Aik Manis.
Sayang, kekayaan Geowisata di Sumbawa belum bisa terangkap, dijual ke wisatawan mancanegara yang kini cenderung memegang prinsip berwisata 'back to nature'. Sayang, Pemda Sumbawa tidak punya dana cukup untuk promosi, publikasi apalagi membikin brosur dan menyebarkan ke kedutaan yang harus ada dana besar. Ibarat pepatah 'nafsu besar dana kurang' yang kini menyelimuti pariwisata Sumbawa.
Siapa yang mau membantu, siapa yang peduli. Ternyata teriakan iuni sudah diteriakan berulangkali. Sayang nggak ada yang dengar, termasuk pusat yang membawahi pariwisata. Menyedihkan memang. (Endy/foto : ist)
Jumat, November 28, 2008
NELAYAN TEMUKAN IKAN PURBA

Penemuan terbaru ini juga menandakan perairan Sulut menjadi lokasi ikan purba berkembang biak. Selain itu, penemuan ikan purba tersebut di Talise dapat memperkuat rencana pemberlakuan perairan Talise dan sekitarnya sebagai marine protect area.
Tertangkapnya ikan coelacanth ini merupakan peristiwa langka yang langsung mendapat perhatian dari berbagai pihak di Sulut karena ikan ini telah menjadi maskot pelaksanaan konferensi kelautan dunia pada Mei 2009 di Manado. Coelacanth dikenal sebagai ikan purba yang diperkirakan muncul di bumi pertama kali sekitar 360 juta tahun lalu pada zaman Paleozoikum.
Ikan coelacanth ditemukan nelayan asal Likupang, Esrom Paus sewaktu menjaring ikan. Dia kemudian langsung melaporkan penemuan tersebut kepada DKP Sulut. Ikan purba yang pada saat ditemukan dalam keadaan hidup, kini sudah disimpan di tempat pendinginan di Tanawangko, Minahasa. Coelacanth yang ditemukan ini berbobot 10 kilogram, tebal 20 cm, panjang 98 cm, dan lebar belakang 21 cm.
Tahun 1998, seorang nelayan penangkap hiu laut dalam, Lameh Sonathan, saat berada di perairan dekat Manado, menemukan ikan purba. Itulah penemuan menggemparkan dunia penelitian zoologi. Disebut menggemparkan karena ikan Coelacanth diyakini punah sejak sekitar 70 juta tahun silam. Temuan terakhir Coelacanth hidup berada di perairan timur Afrika tahun 1938.
Hasil tes DNA menyebut jenis Coelacanth Indonesia berbeda dengan yang di Afrika. Berasal dari jenis yang lebih tua. Ikan yang ditemukan di Manado pada tahun 1998 itu kini disimpan di Museum Biologi LIPI di Cibinong, Bogor.
Coelacanth juga disebut sebagai ikan fosil purba karena, berdasarkan fosilnya, ikan jenis ini pertama kali muncul diperkirakan pada zaman Devonian (sekitar 400 juta tahun silam) atau jauh lebih tua dibandingkan dengan zaman Dinosaurus pada masa Triasic (sekitar 200 juta tahun silam). Ikan ini diyakini punah 70 tahun silam.
Adanya ciri sirip berlobi daging yang menyerupai tonjolan kaki dan tangan, ikan ini diasumsikan berkerabat dekat dengan hewan berkaki empat (tetrapoda) dan ikan paru daripada ke jenis ikan yang biasa dilihat.
Jenis ikan ini diketahui hidup di goa-goa bawah laut pada kedalaman 150-2.000 meter bersuhu 18 derajat Celsius. Ikan ini juga berkembang biak dengan beranak, bukan bertelur.
Ikan Coelacanth ditemukan pertama kali pada 23 Desember 1938 dari Laut India, tak jauh dari mulut Sungai Chalumna oleh Kapten Hendrick Goosen. Lalu oleh, kurator museum di East London, Marjorie Courtenay Latimer, ikan tersebut diserahkan kepada ahli ikan dari Universitas Rhodes, Prof. J.L.B. Smith. Maka akhirnya Untuk menghormati jasa Latimer dan Smith, ikan purba itu diberi nama Latimeria chalumnae smith. Habitat ikan Raja Laut ini diperkirakan berada pada kedalaman laut lebih dari 150 meter, perairan Kepulauan Komoro, sebelah barat Madagaskar.
Tetapi sampai tahun 1990-an, beberapa individu tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, dan Afrika Selatan dan pada 1998 untuk pertama kali tertangkap coelecanth spesies baru Coelacanth latimeria menadoensis pada jaring nelayan di perairan Manado Tua, Sulawesi Utara, yang spesimennya kini tersimpan di Museum Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong.
Coelecanth sejak 18 Januari 1980 telah dimasukkan dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang menyatakan ikan ini tidak boleh diperdagangkan antarnegara. Coelacanth berasal dari kata-kata Yunani; coelia (berongga) dan acanthus (duri), yang berarti ikan dengan duri berongga dan tergolong ke dalam ordo Coelacanth hiformes. Dipaparkan oleh Ika Rachmatika S., dkk., dari Pusat Penelitian Biologi LIPI ada perbedaan karakter morfologi dan genetika antara Coelecanth latimeria chalumnae yang ditemukan di Kepulauan Komoro dan Coelecanth latimeria menadoensis yang ditemukan di Manado. (e)
Kamis, November 27, 2008
BIDADARI ITU TERANCAM PUNAH
Diperkirakan, burung yang ditemukan ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace kini tinggal sekitar 50 sampai 100 ekor. Jumlah ini terus menyusut setiap tahunnya lantaran diburu untuk dijual, bahkan habitatnya tergeser oleh maraknya ekplorasi pertambangan dan penebangan hutan.
Populasi burung itu, kini banyak didominasi jenis jantan. Penyebaran
burung ini, hanya tersisa di beberapa lokasi, salah satunya di kawasan hutan Batu Putih Domato, Sidangoli, kecamatan Jailolo Selatan, kabupaten Halmahera Barat.Selain di kawasan tersebut, Bidadari Halmahera juga bisa ditemui di kawasan hutan Wasiley (Halmahera Tengah), gunung Sibela, Bacan (Halmahera Selatan), dan kaki gunung Gamkonora (Halmahera Utara). Keunikan burung ini yakni hanya muncul di pagi hari sekitar pukul enam hingga sembilan pagi.
Nama burung bidadari itu, diberikan oleh Wallace saat melakukan ekspedisi di Maluku tahun 1858. Wallace terkagum-kagum saat melihat keindahan warnanya yang didominasi hijau dan kecantikan yang seindah bidadari.
Saat itu semua orang tahu bahwa burung cenderawasih hanya ada di Papua, tetapi ternyata Ali, anak Melayu asisten Wallace menemukan sejenis cenderawasih di Pulau Bacan, Halmahera, yang berukuran 25 sampai 30 sentimeter, dengan spesifikasi tubuh yang menarik, juga warnanya yang menakjubkan.
Dalam The Malay Archipelago: The Land of The Orang-utan and The Birds of Paradise (1869) yang ditulisnya setelah menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), Wallace melukiskan, sebenarnya keseluruhan bulu burung bidadari tergolong biasa dan sederhana. cuma warnanya sehijau daun zaitun, dengan sedikit keungu-unguan di ujung dekat ekornya.
Kepalanya seperti memakai mahkota karena dihiasi bulu ungu muda berkilat. Leher dan dadanya berwarna hijau mengkilat. Semakin ke bawah, bulu-bulunya seperti terpisah menjadi dua bagian, masing-masing ke arah sayap kanan dan kiri. Kakinya berwarna kuning kemerahan, paruhnya berwarna seperti tanduk, dan matanya hijau seperti buah zaitun.
Namun, empat helai bulu panjang berwarna putih susu yang keluar dari pangkal sayapnya betul-betul membuatnya memiliki karakter unik. Bulu itu tidak lebar, tetapi sangat lembut dan seperti teranyam pada sayapnya. Bulu setiap helainya sepanjang sekitar enam inci itu menjulur hanya pada saat-saat tertentu yang diinginkan burung.
Yang pasti, antena putih susu itu hanya dimiliki oleh burung jantan. Bulu indah itu terjulur terutama pada saat fajar menyingsing, saat bidadari jantan beratraksi di ketinggian pohon untuk menarik perhatian pasangannya. (o/foto: ist)
Rabu, November 26, 2008
PANTAI KUTA DIPENUHI SAMPAH

Ketua Satgas Pantai Kuta, I Gusti Ngurah Tresna, Rabu (26/11) mengatakan fenomena ini kerap kali terjadi setiap musim angin barat atau menjelang bulan Desember.
"Cuaca sudah mulai berubah, kini bertiup angin barat, sehingga sampah-sampah di tengah laut terbawa arus hingga ke tepi pantai yang banyak dikunjungi turis mancanegara," kata Tresna seperti dikutip antara.
Menurut catatan satgas Kuta, tumpukan sampah telah terjadi sejak lima hari lalu. Satgas Kuta pun mencatat sedikitnya sampah yang terkumpul di Kuta telah mencapai 20 truk.
"Setiap hari petugas dibantu para pedagang mengumpulkan sampah yang ada di Pantai Kuta, kemudian untuk bisa diangkut petugas DKP Badung," kata Tresna.
Sampah yang memenuhi Pantai Kuta ini akan semakin menumpuk selama bulan Desember mendatang dan seperti tahun lalu sampah di Pantai Kuta mencapai 1000 truk.
Pantai Kuta yang dipenuhi sampah ini dikhawatirkan mengganggu kegiatan pariwisata di Pantai Kuta. Selain akibat cuaca yang mendung, banyak wisatawan mengurungkan niatnya berenang atau berjemur di Pantai Kuta akibat sampah yang memenuhi pantai.
"Untuk menghindari persepsi yang salah tentang Pantai Kuta bagi wisatawan, kami terus memberikan informasi mengenai kejadian tahunan ini," kata Tresna. (e/foto :ant)
JALAN KE PULAU CANGKIR ANCUR
POTENSI obyek wisata Pulau Cangkir di wilayah Kronjo, Tanggerang Banten, memang luar biasa. Pasirnya putih, hamparan pantai tanpa celah, sajian kuliner dengan menu seafood yang menggairahkan, panoramanya indah, udaranya sangat segar, dan puluhan burung camar selalu menyapa siapa saja yang menikmati keindahan destinasi itu.
Bahkan, Pulau Cangkir yang berada pada salah satu gugusan pulau di perairan Laut Jawa, juga ada makam yang dikeramatkan. Pada waktu tertentu banyak dikunjungi wisatawan lokal terutama p
ada bulan Muharram tahun penanggalan Hijriah, untuk berziarah.Harapannya obyek wisata ini menjadi salah satu andalan, unggulan bagi Tanggerang. Namun sayang, andalan itu kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Bahkan Pemerintah daerah tidak punya kepedulian yang tinggi untuk mengembangkan pariwisata. dan tidak punya keseriusan menggarap pariwisata menjadi sumber pendapatan daerah.
Malah ada suara yang kurang mengenakan dari masyarakat, pemerintah daerah mau ambil dana restribusinya tapi tidak mau memperhatikan sarana maupun prasarana obyek wisatanya. Kalau kondisi seperti ini bagaimana pariwisata di daerah Tanggerang bisa maju dan berkembang.
Memang tidak bisa dipungkiri, masalah utama yang dihadapi obyek wisata Pulau Cangkir adalah kondisi jalan menuju kawasan wisata itu ancur, rusak parah, amburadul. Sehingga jalan menuju lokasi yang jaraknya sekitar 3 - 4 kilometer itu, membuat wisatawan mengeluh, geregetan, dongkol dan kadang-kadang mau marah namun melimpahkan ke siapa?
Selain jalan masuk yang ancur, tempat parkir belum representatif, tempat kencing juga susah, tempat sampah juga nggak ada sehingga banyak sampah berserakan yang nampak kumuh, tempat santai atau gazebo untuk duduk-duduk menikmati hamparan laut juga sulit dicari, tempat pedagang makanan dan minuman juga amburadul.
Nah, kalau sudah begini potensi obyek wisata itu menjadi rendah, wisatawan yang datang pun enggan. Rasa kenyamanan, kedamaian dan keamanan merupakan barang yang mahal. Dan mereka yang datang ke Pulau Cangkir itu hanya keterpaksaan karena tak ada obyek wisata lain. Menyedihkan. (endy)
Selasa, November 25, 2008
DESTINASI SUNGAI MUSI MAKIN TAK BERSIH
SUNGAI Musi beserta jembatan Ampera, sudah menjadi ikon pariwisata Kota Palembang. Suasana di sekitar jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1962, semakin bersih dan tertata rapi. Sayangnya kerapian itu harus dibayar mahal dengan kondisi sungai yang tidak bersih lagi. Sayang memang.
Enceng gondok kini tumbuh subur, makmur dan tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan yang memiliki kepedulian tinggi untuk membersihkannya. Sampah plastik dan botol minuman - yang dibuang seenaknya oleh orang-orang yang kurang peduli lingkungan, telah ngambang dengan tenang di permukaan sungai.
Kondisi itu diperparah dengan bkeberadaan sampah rumah tangga bahkan industri yang menghiasi riak-riak kecil air Musi. Ditambah lagi, ranting pohon dan kayu besar yang hanyut bebas tanpa batas. Agaknya, aspek kebersihan sungai yang penuh kenangan, penuh sejarah, benar-benar belum terjaga kebersihannya.
Kotornya sungai Musi itu, kalau dibiarkan tidak hanya mengurangi keindahan sungai, tetapi dapat menghalangi aktivitas transportasi air
di kawasan yang menjadi jalur lintas menuju pedalaman Sumatera Selatan. Lebih dari itu, menganggu pandangan mata wisatawan yang sedang menikmati panorama Sungai Musi.Sungai Musi, tempat aktifitas segala kehidupan. Sungai Musi punya daya tarik sehingga banyak dikunjungi. Sungai Musi sudah menjadi ikon pariwisata. Apalagi untuk mendukung obyek wisata itu, ada Jembatan Ampera, ada benteng Kuto Baru, ada Museum, ada Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), ada kapal wisata, ada wisata bahari Pulau Kemarau, ada wisata alam Bukit Siguntang, ada kawah Tengkurep, ada atraksi wisata.
Atraksi itu berupa Festival Perahu Naga Internasional atau "Sriwijaya International Dragon Boat Festival 2008", yang digelar di perairan Sungai Musi, pada 27-29 November 2008. Atraksi lain, Lomba Perahu Bidar Prestasi dan perahu hias yang digelar secara rutin setiap bulan Juni dan Agustus.
Memang sejak Sejak diluncurkan Program Visit Musi awal tahun 2007 lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumsel mengembirakan. Secara umum, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Sumsel pada tahun 2008, mencapai dua juta orang. Tahun 2007 lalu, hanya 1,3 juta orang.
Mereka yang berkunjung ke Sumsel, kebanyakan wisatawan nusantara, sementara turis asing masih relatif sedikit. Wisatawan mancanegara yang datang ke Sumsel sekitar 12.000-an orang, dari Malaysia dan Thailand. Harapan agar turis asing terus bertambah, memang bukan sekedar isapan jempol belaka.
Untuk itu, berbagai promosi, publikasi sudah disiarkan. Berbagai travel mart di tingkal nasional dan internasional sudah digencarkan. Target kunjungan wisatawan asing tahun 2009 pun ditetapkan dengan mengalami kenaikan sekitar 20-25 persen. Namun target itu bisa kacau dan gagal diraih, jika masalah-masalah kecil diabaikan, ya seperti Sungai Musi yang tidak bersih. (endy)
Senin, November 24, 2008
RESTORAN DI JAKARTA BANYAK NUNGGAK PAJAK

"Jadi pengusaha restoran yang tidak menyetorkan pajak 10 persen yang dititip konsumennya, jelas itu tindak pindana, penggelapan. Jadi bukan nunggak karena orang yang makan di restorannya sudah bayar pajak ketika membayar di kasir untuk disetorkan ke Pemda," ucap Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Prya Ramadhani di Jakarta, Senin (24/11).
Karena itu, Dipenda (Dinas Pendapatan Daerah) DKI Jakarta harusnya segera melaporkan kasus penggelapan pajak restoran ini ke kejaksaan. "Saya yakin kasus seperti itu banyak dan ini salah satu kebocoran pajak restoran. Untuk menutup kebocoran hanya bisa diumbat pakai sistem," ucapnya dan target pemasukan pajak restoran 2008 Rp 610 miliar.
Kebocoran pajak restoran ini, kata Prya bisa dalam bentuk tidak menyetorkan karena pajak titipannya dipakai pengusaha dan bisa juga setoran ditunda-tunda beberapa, tidak periodik. Kebocoran lain, pengusaha restoran tidak memberikan bil yang diperporasi sementara pajaknya ditarik.
"Nah kalau sampai 15 persen yang tak setorkan pajak dan 35 persen yang menunggak, nilainya bisa cukup besar. Ini harus diambil sanksi hukum," tandasnya. Karena itu, untuk menjerakan para pengusaha restoran yang kerap menggelapkan pajak harus dilaporkan ke kejaksaan.
Selain itu, untuk menekan kebocoran pajak restoran harus menggunakan sistem on line. Aparat Dipenda itu tidak akan menjangkau semua wajib pajak restoran yang jumlahnya mencpai 5.561 wajib pajak. Dengan sistem on line akan menekan kebocoran.
Kasubdis Pemeriksaan Pajak Daerah Dipenda DKI Jakarta, Iwan Jumhana mengatakan, 6 restoran Gang-Gang Sullai "menilep" pajak restoran selama dua tahun Rp3,4 miliar. Pajak titipan yang tak disetor pemilik restoran korea pada tahun 2004 - 2005 Rp1,2 miliar dan tahun 2006 sampai 2008 sekitar Rp2,2 miliar. Keenam restoran itu selain tak setorkan pajak titipan konsumen juga usahanya tanpa izin dari Dinas Pariwisata dan tidak didukung UUG (undang-undang gangguan). Restoran itu sudah disegel. (e)
