Jumat, November 28, 2008

NELAYAN TEMUKAN IKAN PURBA

NELAYAN asal Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Sulut) menemukan ikan purba, coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Talise Likupang, Minahasa Utara, Selasa (25/11). Penemuan ikan purba yang dikenal sebagai ikan raja laut ini merupakan penemuan keempat sejak tahun 1998.
Penemuan terbaru ini juga menandakan perairan Sulut menjadi lokasi ikan purba berkembang biak. Selain itu, penemuan ikan purba tersebut di Talise dapat memperkuat rencana pemberlakuan perairan Talise dan sekitarnya sebagai marine protect area.
Tertangkapnya ikan coelacanth ini merupakan peristiwa langka yang langsung mendapat perhatian dari berbagai pihak di Sulut karena ikan ini telah menjadi maskot pelaksanaan konferensi kelautan dunia pada Mei 2009 di Manado. Coelacanth dikenal sebagai ikan purba yang diperkirakan muncul di bumi pertama kali sekitar 360 juta tahun lalu pada zaman Paleozoikum.
Ikan coelacanth ditemukan nelayan asal Likupang, Esrom Paus sewaktu menjaring ikan. Dia kemudian langsung melaporkan penemuan tersebut kepada DKP Sulut. Ikan purba yang pada saat ditemukan dalam keadaan hidup, kini sudah disimpan di tempat pendinginan di Tanawangko, Minahasa. Coelacanth yang ditemukan ini berbobot 10 kilogram, tebal 20 cm, panjang 98 cm, dan lebar belakang 21 cm.
Tahun 1998, seorang nelayan penangkap hiu laut dalam, Lameh Sonathan, saat berada di perairan dekat Manado, menemukan ikan purba. Itulah penemuan menggemparkan dunia penelitian zoologi. Disebut menggemparkan karena ikan Coelacanth diyakini punah sejak sekitar 70 juta tahun silam. Temuan terakhir Coelacanth hidup berada di perairan timur Afrika tahun 1938.
Hasil tes DNA menyebut jenis Coelacanth Indonesia berbeda dengan yang di Afrika. Berasal dari jenis yang lebih tua. Ikan yang ditemukan di Manado pada tahun 1998 itu kini disimpan di Museum Biologi LIPI di Cibinong, Bogor.
Coelacanth juga disebut sebagai ikan fosil purba karena, berdasarkan fosilnya, ikan jenis ini pertama kali muncul diperkirakan pada zaman Devonian (sekitar 400 juta tahun silam) atau jauh lebih tua dibandingkan dengan zaman Dinosaurus pada masa Triasic (sekitar 200 juta tahun silam). Ikan ini diyakini punah 70 tahun silam.
Adanya ciri sirip berlobi daging yang menyerupai tonjolan kaki dan tangan, ikan ini diasumsikan berkerabat dekat dengan hewan berkaki empat (tetrapoda) dan ikan paru daripada ke jenis ikan yang biasa dilihat.
Jenis ikan ini diketahui hidup di goa-goa bawah laut pada kedalaman 150-2.000 meter bersuhu 18 derajat Celsius. Ikan ini juga berkembang biak dengan beranak, bukan bertelur.
Ikan Coelacanth ditemukan pertama kali pada 23 Desember 1938 dari Laut India, tak jauh dari mulut Sungai Chalumna oleh Kapten Hendrick Goosen. Lalu oleh, kurator museum di East London, Marjorie Courtenay Latimer, ikan tersebut diserahkan kepada ahli ikan dari Universitas Rhodes, Prof. J.L.B. Smith. Maka akhirnya Untuk menghormati jasa Latimer dan Smith, ikan purba itu diberi nama Latimeria chalumnae smith. Habitat ikan Raja Laut ini diperkirakan berada pada kedalaman laut lebih dari 150 meter, perairan Kepulauan Komoro, sebelah barat Madagaskar.
Tetapi sampai tahun 1990-an, beberapa individu tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, dan Afrika Selatan dan pada 1998 untuk pertama kali tertangkap coelecanth spesies baru Coelacanth latimeria menadoensis pada jaring nelayan di perairan Manado Tua, Sulawesi Utara, yang spesimennya kini tersimpan di Museum Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong.
Coelecanth sejak 18 Januari 1980 telah dimasukkan dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), yang menyatakan ikan ini tidak boleh diperdagangkan antarnegara. Coelacanth berasal dari kata-kata Yunani; coelia (berongga) dan acanthus (duri), yang berarti ikan dengan duri berongga dan tergolong ke dalam ordo Coelacanth hiformes. Dipaparkan oleh Ika Rachmatika S., dkk., dari Pusat Penelitian Biologi LIPI ada perbedaan karakter morfologi dan genetika antara Coelecanth latimeria chalumnae yang ditemukan di Kepulauan Komoro dan Coelecanth latimeria menadoensis yang ditemukan di Manado. (e)

Kamis, November 27, 2008

BIDADARI ITU TERANCAM PUNAH

INDONESIA memang kaya flora dan fauna. Sayang kekayaan itu tidak dijaga, dilestarikan secara serius. Buktinya, burung Bidadari (semioptera wallacei) yang ada di belantara rimba Halmahera dan Pulau Bacan Maluku, kini terancam punah.
Diperkirakan, burung yang ditemukan ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace kini tinggal sekitar 50 sampai 100 ekor. Jumlah ini terus menyusut setiap tahunnya lantaran diburu untuk dijual, bahkan habitatnya tergeser oleh maraknya ekplorasi pertambangan dan penebangan hutan.
Populasi burung itu, kini banyak didominasi jenis jantan. Penyebaran burung ini, hanya tersisa di beberapa lokasi, salah satunya di kawasan hutan Batu Putih Domato, Sidangoli, kecamatan Jailolo Selatan, kabupaten Halmahera Barat.
Selain di kawasan tersebut, Bidadari Halmahera juga bisa ditemui di kawasan hutan Wasiley (Halmahera Tengah), gunung Sibela, Bacan (Halmahera Selatan), dan kaki gunung Gamkonora (Halmahera Utara). Keunikan burung ini yakni hanya muncul di pagi hari sekitar pukul enam hingga sembilan pagi.
Nama burung bidadari itu, diberikan oleh Wallace saat melakukan ekspedisi di Maluku tahun 1858. Wallace terkagum-kagum saat melihat keindahan warnanya yang didominasi hijau dan kecantikan yang seindah bidadari.
Saat itu semua orang tahu bahwa burung cenderawasih hanya ada di Papua, tetapi ternyata Ali, anak Melayu asisten Wallace menemukan sejenis cenderawasih di Pulau Bacan, Halmahera, yang berukuran 25 sampai 30 sentimeter, dengan spesifikasi tubuh yang menarik, juga warnanya yang menakjubkan.
Dalam The Malay Archipelago: The Land of The Orang-utan and The Birds of Paradise (1869) yang ditulisnya setelah menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), Wallace melukiskan, sebenarnya keseluruhan bulu burung bidadari tergolong biasa dan sederhana. cuma warnanya sehijau daun zaitun, dengan sedikit keungu-unguan di ujung dekat ekornya.
Kepalanya seperti memakai mahkota karena dihiasi bulu ungu muda berkilat. Leher dan dadanya berwarna hijau mengkilat. Semakin ke bawah, bulu-bulunya seperti terpisah menjadi dua bagian, masing-masing ke arah sayap kanan dan kiri. Kakinya berwarna kuning kemerahan, paruhnya berwarna seperti tanduk, dan matanya hijau seperti buah zaitun.
Namun, empat helai bulu panjang berwarna putih susu yang keluar dari pangkal sayapnya betul-betul membuatnya memiliki karakter unik. Bulu itu tidak lebar, tetapi sangat lembut dan seperti teranyam pada sayapnya. Bulu setiap helainya sepanjang sekitar enam inci itu menjulur hanya pada saat-saat tertentu yang diinginkan burung.
Yang pasti, antena putih susu itu hanya dimiliki oleh burung jantan. Bulu indah itu terjulur terutama pada saat fajar menyingsing, saat bidadari jantan beratraksi di ketinggian pohon untuk menarik perhatian pasangannya. (o/foto: ist)

Rabu, November 26, 2008

PANTAI KUTA DIPENUHI SAMPAH


USAI dipenuhi puluhan ton ikan mati, Pantai Kuta kini dipenuhi sampah-sampah yang terbawa arus laut. Sampah yang terdampar di pantai sangat beragam, mulai sampah plastik yang tidak dapat diurai hingga bangkai binatang.
Ketua Satgas Pantai Kuta, I Gusti Ngurah Tresna, Rabu (26/11) mengatakan fenomena ini kerap kali terjadi setiap musim angin barat atau menjelang bulan Desember.
"Cuaca sudah mulai berubah, kini bertiup angin barat, sehingga sampah-sampah di tengah laut terbawa arus hingga ke tepi pantai yang banyak dikunjungi turis mancanegara," kata Tresna seperti dikutip antara.
Menurut catatan satgas Kuta, tumpukan sampah telah terjadi sejak lima hari lalu. Satgas Kuta pun mencatat sedikitnya sampah yang terkumpul di Kuta telah mencapai 20 truk.
"Setiap hari petugas dibantu para pedagang mengumpulkan sampah yang ada di Pantai Kuta, kemudian untuk bisa diangkut petugas DKP Badung," kata Tresna.
Sampah yang memenuhi Pantai Kuta ini akan semakin menumpuk selama bulan Desember mendatang dan seperti tahun lalu sampah di Pantai Kuta mencapai 1000 truk.
Pantai Kuta yang dipenuhi sampah ini dikhawatirkan mengganggu kegiatan pariwisata di Pantai Kuta. Selain akibat cuaca yang mendung, banyak wisatawan mengurungkan niatnya berenang atau berjemur di Pantai Kuta akibat sampah yang memenuhi pantai.
"Untuk menghindari persepsi yang salah tentang Pantai Kuta bagi wisatawan, kami terus memberikan informasi mengenai kejadian tahunan ini," kata Tresna. (e/foto :ant)

JALAN KE PULAU CANGKIR ANCUR


POTENSI obyek wisata Pulau Cangkir di wilayah Kronjo, Tanggerang Banten, memang luar biasa. Pasirnya putih, hamparan pantai tanpa celah, sajian kuliner dengan menu seafood yang menggairahkan, panoramanya indah, udaranya sangat segar, dan puluhan burung camar selalu menyapa siapa saja yang menikmati keindahan destinasi itu.
Bahkan, Pulau Cangkir yang berada pada salah satu gugusan pulau di perairan Laut Jawa, juga ada makam yang dikeramatkan. Pada waktu tertentu banyak dikunjungi wisatawan lokal terutama pada bulan Muharram tahun penanggalan Hijriah, untuk berziarah.
Harapannya obyek wisata ini menjadi salah satu andalan, unggulan bagi Tanggerang. Namun sayang, andalan itu kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Bahkan Pemerintah daerah tidak punya kepedulian yang tinggi untuk mengembangkan pariwisata. dan tidak punya keseriusan menggarap pariwisata menjadi sumber pendapatan daerah.
Malah ada suara yang kurang mengenakan dari masyarakat, pemerintah daerah mau ambil dana restribusinya tapi tidak mau memperhatikan sarana maupun prasarana obyek wisatanya. Kalau kondisi seperti ini bagaimana pariwisata di daerah Tanggerang bisa maju dan berkembang.
Memang tidak bisa dipungkiri, masalah utama yang dihadapi obyek wisata Pulau Cangkir adalah kondisi jalan menuju kawasan wisata itu ancur, rusak parah, amburadul. Sehingga jalan menuju lokasi yang jaraknya sekitar 3 - 4 kilometer itu, membuat wisatawan mengeluh, geregetan, dongkol dan kadang-kadang mau marah namun melimpahkan ke siapa?
Selain jalan masuk yang ancur, tempat parkir belum representatif, tempat kencing juga susah, tempat sampah juga nggak ada sehingga banyak sampah berserakan yang nampak kumuh, tempat santai atau gazebo untuk duduk-duduk menikmati hamparan laut juga sulit dicari, tempat pedagang makanan dan minuman juga amburadul.
Nah, kalau sudah begini potensi obyek wisata itu menjadi rendah, wisatawan yang datang pun enggan. Rasa kenyamanan, kedamaian dan keamanan merupakan barang yang mahal. Dan mereka yang datang ke Pulau Cangkir itu hanya keterpaksaan karena tak ada obyek wisata lain. Menyedihkan. (endy)

Selasa, November 25, 2008

DESTINASI SUNGAI MUSI MAKIN TAK BERSIH


SUNGAI Musi beserta jembatan Ampera, sudah menjadi ikon pariwisata Kota Palembang. Suasana di sekitar jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1962, semakin bersih dan tertata rapi. Sayangnya kerapian itu harus dibayar mahal dengan kondisi sungai yang tidak bersih lagi. Sayang memang.
Enceng gondok kini tumbuh subur, makmur dan tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan yang memiliki kepedulian tinggi untuk membersihkannya. Sampah plastik dan botol minuman - yang dibuang seenaknya oleh orang-orang yang kurang peduli lingkungan, telah ngambang dengan tenang di permukaan sungai.
Kondisi itu diperparah dengan bkeberadaan sampah rumah tangga bahkan industri yang menghiasi riak-riak kecil air Musi. Ditambah lagi, ranting pohon dan kayu besar yang hanyut bebas tanpa batas. Agaknya, aspek kebersihan sungai yang penuh kenangan, penuh sejarah, benar-benar belum terjaga kebersihannya.
Kotornya sungai Musi itu, kalau dibiarkan tidak hanya mengurangi keindahan sungai, tetapi dapat menghalangi aktivitas transportasi air di kawasan yang menjadi jalur lintas menuju pedalaman Sumatera Selatan. Lebih dari itu, menganggu pandangan mata wisatawan yang sedang menikmati panorama Sungai Musi.
Sungai Musi, tempat aktifitas segala kehidupan. Sungai Musi punya daya tarik sehingga banyak dikunjungi. Sungai Musi sudah menjadi ikon pariwisata. Apalagi untuk mendukung obyek wisata itu, ada Jembatan Ampera, ada benteng Kuto Baru, ada Museum, ada Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), ada kapal wisata, ada wisata bahari Pulau Kemarau, ada wisata alam Bukit Siguntang, ada kawah Tengkurep, ada atraksi wisata.
Atraksi itu berupa Festival Perahu Naga Internasional atau "Sriwijaya International Dragon Boat Festival 2008", yang digelar di perairan Sungai Musi, pada 27-29 November 2008. Atraksi lain, Lomba Perahu Bidar Prestasi dan perahu hias yang digelar secara rutin setiap bulan Juni dan Agustus.
Memang sejak Sejak diluncurkan Program Visit Musi awal tahun 2007 lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumsel mengembirakan. Secara umum, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Sumsel pada tahun 2008, mencapai dua juta orang. Tahun 2007 lalu, hanya 1,3 juta orang.
Mereka yang berkunjung ke Sumsel, kebanyakan wisatawan nusantara, sementara turis asing masih relatif sedikit. Wisatawan mancanegara yang datang ke Sumsel sekitar 12.000-an orang, dari Malaysia dan Thailand. Harapan agar turis asing terus bertambah, memang bukan sekedar isapan jempol belaka.
Untuk itu, berbagai promosi, publikasi sudah disiarkan. Berbagai travel mart di tingkal nasional dan internasional sudah digencarkan. Target kunjungan wisatawan asing tahun 2009 pun ditetapkan dengan mengalami kenaikan sekitar 20-25 persen. Namun target itu bisa kacau dan gagal diraih, jika masalah-masalah kecil diabaikan, ya seperti Sungai Musi yang tidak bersih. (endy)

Senin, November 24, 2008

RESTORAN DI JAKARTA BANYAK NUNGGAK PAJAK


SEBANYAK 5.561 restoran yang ada di Jakarta, disinyalir banyak yang tidak membayar pajak. Bahkan pajak restoran, sangat rawan kebocoran ditingkat bawah. Padahal jenis pajak ini, bukan kewajiban yang harus dibayar pengusaha tapi pajak titipan dari masyarakat (konsumen).
"Jadi pengusaha restoran yang tidak menyetorkan pajak 10 persen yang dititip konsumennya, jelas itu tindak pindana, penggelapan. Jadi bukan nunggak karena orang yang makan di restorannya sudah bayar pajak ketika membayar di kasir untuk disetorkan ke Pemda," ucap Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Prya Ramadhani di Jakarta, Senin (24/11).
Karena itu, Dipenda (Dinas Pendapatan Daerah) DKI Jakarta harusnya segera melaporkan kasus penggelapan pajak restoran ini ke kejaksaan. "Saya yakin kasus seperti itu banyak dan ini salah satu kebocoran pajak restoran. Untuk menutup kebocoran hanya bisa diumbat pakai sistem," ucapnya dan target pemasukan pajak restoran 2008 Rp 610 miliar.
Kebocoran pajak restoran ini, kata Prya bisa dalam bentuk tidak menyetorkan karena pajak titipannya dipakai pengusaha dan bisa juga setoran ditunda-tunda beberapa, tidak periodik. Kebocoran lain, pengusaha restoran tidak memberikan bil yang diperporasi sementara pajaknya ditarik.
"Nah kalau sampai 15 persen yang tak setorkan pajak dan 35 persen yang menunggak, nilainya bisa cukup besar. Ini harus diambil sanksi hukum," tandasnya. Karena itu, untuk menjerakan para pengusaha restoran yang kerap menggelapkan pajak harus dilaporkan ke kejaksaan.
Selain itu, untuk menekan kebocoran pajak restoran harus menggunakan sistem on line. Aparat Dipenda itu tidak akan menjangkau semua wajib pajak restoran yang jumlahnya mencpai 5.561 wajib pajak. Dengan sistem on line akan menekan kebocoran.
Kasubdis Pemeriksaan Pajak Daerah Dipenda DKI Jakarta, Iwan Jumhana mengatakan, 6 restoran Gang-Gang Sullai "menilep" pajak restoran selama dua tahun Rp3,4 miliar. Pajak titipan yang tak disetor pemilik restoran korea pada tahun 2004 - 2005 Rp1,2 miliar dan tahun 2006 sampai 2008 sekitar Rp2,2 miliar. Keenam restoran itu selain tak setorkan pajak titipan konsumen juga usahanya tanpa izin dari Dinas Pariwisata dan tidak didukung UUG (undang-undang gangguan). Restoran itu sudah disegel. (e)

SAWAHLUNTO DISULAP JADI OBYEK WISATA KOBOI



INGIN berwisata dengan suasana ala koboi? Nggak perlu jauh-jauh ke negara asalnya di Amerika. Cukup datang ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Karena Pemerintah Daerah (Pemda) sedang menyulap bekas kawasan pertambangan menjadi obyek wisata, yang mirip dengan suasana ala koboi.
Ambisi Pemda untuk menjadikan Sawahlunto sebagai daerah tujuan wisata, memang sangat tepat dan beralasan. Karena sejak penambangan batu bara dihentikan pada tahun 2000, sektor pariwisata yang menjadi andalannya.
Dengan modal bangunan tua peninggalan Belanda serta bekas kota tambang, Sawahlunto dijadikan living museum, berbagai bangunan tua dan bekas pertambangan dijadikan objek wisata.
Sawahlunto memiliki kawasan pertambangan yang unik. Memang dulu, Kota Lama Sawalunto merupakan kota tambang tertua di Indonesia. Dulu memang dikenal sebagai penghasil batu bara, seiring dengan waktu dan persediaan yang sudah mulai berkurang akhirnya julukan tersebut sudah hilang ditelan waktu. Kawasan pertambangan ini yang menjadi andalan utama sebagai tujuan wisata.
Kota ini juga ada peninggalan bangunan Belanda yang kokoh. Cagar budaya sejarah ini masih terpelihara dengan baik. Tak ada pemugaran yang berarti selama ini, sehingga kondisi bangunan masih seperti aslinya.
Bahkan stasiun kereta api dengan relnya yang masih utuh. Stasiun yang dibuat zaman Belanda ini masih terdapat alat pemutar rel kereta api yang sampai kini masih berfungsi. Malah Sawahlunto masih menyimpan gerbong yang terbuat dari kayu, kondisinya masih utuh. Sayangnya, lokomotif uap dengan bunyi sirene dan kepulan asapnya yang pernah melegenda saat pertambangan masih marak, kini tak bisa dipakai lagi. Untuk itu, Pemerintah Daerah mendatangkan lokomotif uap dari Museum Kereta Api Ambawara, yang rencananya akan dikirim pada 2009.
Bahkan yang lebih menarik lagi, ada terowongan yang masih layak dimasuki. Terowongan kuno sepanjang 500 meter dari Kota Sawahlunto dengan Muara Kalaban, kondisinya masih bagus bahkan 5 KM rel kereta api juga masih bagus. Sehingga wisatawan akan menikmati perjalanan kereta uap untuk mengenang kejayaan Sawalunto tempo doeloe. Apalagi penumpang berpakaian ala koboi, sehingga menjadi kenangan tersendiri.
Juga ada gelanggang pacuan kuda. Luas lahan arela pacuan mencapai 39,69 Ha dengan sarana track pacuan sepanjang 1.400 meter dan lebar 20 meter dilengkapi kandang kuda dengan kapasitas 200 ekor juga ada Mounting Yard, Saddling Paddock dan Jalan Kuda.
Bahkan gedung pusat kebudayaan yang didirikan pada tahun 1910 masih sempurna. Awalnya gedung ini bernama Gluck Auf, merupakan tempat berkumpul pejabat colonial untuk berdansa dan berpesta, lalu gedung ini bernama gedung Bola berfungsi sebagai arena billiard dan bowling. Gedung ini berfungsi sebagai tempat pertemuan para pejabat colonial. Sejak kemerdekaan, gedung ini digunakan oleh masyarakat untuk pertunjukan seni dan berubah nama menjadi gedung Pertemuan Masyarakat. Dan kini menjadi gedung kesenian dan kebudayaan.
Untuk wisata relegi, ada bangunan masjid kuno yang menarik. Semula bangunan mesjid ini adalah gudang mesiu. Fungsi dan bentuk bangunannya memang sudah berubah dari bangunan semula. Namun cerobong bangunan sudah dirubah digunakan sebagai minerat mesjid yang berupa menara dengan tangga memutar ke dalamnya. Atap bangunannya telah menjadi kubah. Walaupun telah mengalami cukup banyak perubahan mesjid ini merupakan suatu yang menarik dikunjungi.
Ada juga bangunan Gereja peninggala Belanda. Bangunan dengan gaya arsitektur kolonial (art deco) ini mempunyai suatu keunikan tersendiri dan merupakan sala satu elemen yang merupakan satu kesatuan dalam sejarah berdirinya dan tumbuhnya Kota Sawahlunto.
Yang tak kalah asyik dan menariknya, Batu Sandaran yang antik. Batu sandaran ini terletak dikelurahan Balai Batu sandaran yang terletak di jalur lingkar luar Selatan Kota Sawahlunto. Obyek ini berasal dari legenda tentang beberapa sesepuh adat bermusyawarah di tempat tersebut dan bersandar pada jajaran batu yang berbentuk sandaran, yang masih ada sampai saat ini.
Obyek wisata lain yang melengkapi kota Sawahlunto, ada Danau Kandi. Ada ekoswisata. Ada Taman Safari Mini. Ada Waterboom. Ada tempat makam Prof.MR.H Muhammad Yamin merupakan salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia yang dilahirkan dan dimakamkan di Talawi kota Sawahlunto. Sawahlunto terus mempercantik diri menjadi kawasan obyek wisata yang pantas dan layak untuk dikunjungi. (endy)

Kamis, November 20, 2008

PANTAI BEKENANG YANG MENYENANGKAN

SIAPA pun yang pernah berkunjung ke Pantai Bekenang, akan selalu menyenangkan bahkan selalu terkenang. Lantaran, obyek wisata pantai ini memiliki pasir putih, udara bersih, laut yang bebas lepas serta panorama alam yang masih virgin sehingga sekali datang pasti akan datang lagi.
Selain itu, pantai yang ada di Bengkulu ini belum kena radiasi pencemaran industri, sampah dan suasana yang masih alami itu membuat Pantai Bekenang benar-benar enjoy untuk dinikmati. Apalagi, berjalan di atas pasir putih yang lembut dan nampak berkilauan seperti intan permata saat matahari menyinari.
Juga lukisan laut perpaduan warna hijau dan biru menyapa dengan penuh kesejukan, keteduhan dan kedamaian. Sehingga memberi rasa kepuasan tersendiri. Apalagi ratusan ikan hias yang berlindung di terumbu karang yang masih menerawang dari permukaan laut, membuat kenanggan yang tak terlupakan.
Untuk menuju pantai Bekenang harus menempuh jarak sekitar 145 Km dari Bandara Fatmawati Kota Bengkulu. Perjalanan ke lokasi itu, bisa ditempuh kendaraan umum, atau rental kendaraan dari Bandara Fatmawati dengan harga sekitar Rp300 ribu, yang butuh waktu 3 jam. Namun selama perjalanan, akan disuguhi pemandangan alam Bengkulu, yang berbeda dengan lainnya.
Pantai Bekenang, satu dari 14 obyek wista pantai yang ada di Bengkulu, diantaranya Pantai Tapak Paderi dan Pantai Panjang di Kota Bengkulu yang merupakan lokasi pembangunan kawasan wista bertaraf internasional.
Di Provinsi Bengkulu saat ini terdapat 80 obyek wisata yang terindentifikasi dan memiliki kekhasan. Dari jumlah itu sebanyak 14 di antaranya merupakan pantai, delapan wisata tirta , 22 wisata sejarah dan 36 panorama alam yang masih alami. (end)

Rabu, November 19, 2008

KAMPUNG TUGU, CAGAR BUDAYA DIAMBANG PUNAH

MESKI lokasinya di ibukota Jakarta, pusat pemerintahan, pusat perputaran uang, pusat kebudayaan namun soal kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya, nampaknya masih sangat rendah. Buktinya, Kampung Tugu di daerah Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, kurang mendapat perhatian serius.
Warisan budaya kolonial Portugis yang menjadi salah satu cagar budaya Indonesia, kini kondisinya terawat namun keberadaanya terabaikan dan tidak terjaga dengan baik. Yang menyedihkan lagi, salah satu cagar budaya bangsa Indonesia sudah diambang kepunahan. Menyedihkan memang.
Peninggalan yang masih kokoh sebuah Gereja Tugu yang berusia 260 tahun, yang tetap sesuai aslinya. Juga ada kuburan orang-orang keturunan Portugis, yang juga terabaikan. Selain itu, akses jalan ke kampung Tugu amburadul.
Kampung Tugu sekarang dihuni oleh masyarakat yang heterogen dan warga keturunan Portugis menjadi bagian di dalamnya. Mereka sekarang berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tidak terelakkan lagi, saat ini mereka sudah menjadi warga minoritas di kampung sendiri.
Orang Tugu atau warga asli Kampung Tugu, telah menjalani kehidupan lebih dari tiga setengah abad, sejak pertengahan abad ke-17, saat Jakarta disebut Batavia dan menjadi kota pusat kekuasaan perusahaan dagang Belanda di Hindia Timur (VOC).
Nenek moyang orang Tugu adalah orang Portugis dari Malaka. Mereka dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang, setelah pasukan VOC merebut kota pelabuhan di Semenanjung Melayu itu dari tangan Portugis pada 1641.
Menurut catatan sejarah, tawanan perang yang diangkut pulang ke Batavia dari Malaka ketika itu berjumlah 23 keluarga atau 150 jiwa. Sebagian besar merupakan orang-orang berdarah campuran, hasil perkawinan lelaki Portugis dengan perempuan lokal asal berbagai daerah koloni Portugis di Asia, seperti Malabar, Kalkuta, Surat, Pantai Koromandel, Goa, dan Ceylon (Sri Lanka), serta dari Malaka sendiri.
Di Batavia, mereka dimukimkan oleh Kompeni Belanda di daerah Tugu, sekiar 20 kilometer sebelah tenggara kota pelabuhan itu. Tugu ketika itu masih berupa kawasan hutan dan rawa-rawa yang merupakan sarang nyamuk malaria dan berbagai sumber penyakit lain. Di sana mereka berusaha bertahan hidup dengan berburu binatang liar, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil hutan.
Setelah memeluk agama Kristen Protestan, agama resmi Kerajaan Belanda, mereka yang awalnya beragama Katolik dibebaskan dari status sebagai tawanan perang. Itu sebabnya, mereka disebut de mardijkers atau orang merdeka. Sebuah gereja dibangun bagi mereka yang bersedia menghapus nama-nama keluarga Portugis, dan menggantinya dengan nama-nama Belanda.
Populasi orang Kampung Tugu kini diperkirakan sekitar 1.200 jiwa. Kurang-lebih separuhnya, yakni 300 orang, masih tinggal dan bekerja di Kampung Tugu, terutama di sekitar gereja tua mereka.
Sekitar 500 orang Tugu lainnya kini tinggal di Belanda. Mereka adalah keturunan orang-orang Tugu yang tahun 1950 melakukan eksodus ke Hollandia (Jayapura, Papua), sebelum kemudian bemigrasi ke Belanda lewat Suriname . Sisanya sekitar 100 orang saat ini bermukim tersebar di berbagai daerah lain di Indonesia, termasuk di Jayapura.
Di mana pun mereka berada, orang-orang Tugu merasa bersaudara satu dengan yang lain. Pertautan darah, kesamaan sejarah, serta ikatan kebudayaan merupakan hal-hal yang selalu dapat menyatukan pikiran dan perasaan mereka.
Masyarakat Kampung Tugu kini ikut menjadi bagian dari masyarakat Jakarta yang majemuk. Warisan kebudayaannya yang khas, termasuk musik kroncongnya, dianggap sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional yang tak ternilai harganya.
Di saat pemerintah sedang gencar-gencarnya menjadikan Indonesia sebagai tempat kunjungan wisata (Visit Indonesia Year), Kampung Tugu yang sering didatangi turis asing, justru terabaikan. Tidak ada iktikad baik dari pemerintah untuk mengembangkan Kampung Tugu sebagai salah satu objek wisata sejarah yang patut dibanggakan. (ENDY)

Senin, November 17, 2008

DESTINASI TUGU PERANG BIAK RUSAK

MERAWAT itu memang tidak gampang. Buktinya, tugu bersejarah yang sudah dibangun susah-susah oleh tentara negara adidaya, Amerika Serikat pada tahun 1945, kini kondisinya malah memprihatikan.
Padahal, di bekas lokasi perang sekutu di Biak, Kabupaten Biak Numfor Papua itu memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Kemenangan tentara AS bersama sekutu saat melawan tentara Jepang pada Perang Dunia Kedua itu merupakan simbol sejarah dunia yang tak ternilai harganya.
Sayangnya, simbol kemenangan yang diwujudkan dalam sebuah Tugu Perang tak terawat, juga kurang mendapat perhatian. Padahal, jika ditangani serius, dirawat dengan baik dan dipelihara secara sukarela, bisa jadi akan menjadi obyek wisata sejarah yang memiliki nilai yang tak terkira harganya.
Lebih dari itu, tugu itu bisa dipromosikan ke negara adi kuasa dan sekutunya dengan promosi yang rutin, propaganda yang menarik dan publikasi yang menyebutkan masih ada peninggalan bekas perang tentara AS yang ada di Biak. Juga dibumbi informasi menarik dan pelengkap lainnya, sehingga menimbulkan daya tarik.
Apalagi, di kawasan ini masih banyak tersebar peninggalan sejarah tentara sekutu, dan Jepang bahkan Belanda seperti bangkai kapal perang, bangkai pesawat terbang juga ada
goa Binsari Jepang di Kampung Sumberker, Tugu UNTEA di jalan Hangtuah komplek Pangkalan TNI AL Biak.
Selain itu, ada juga objek sejarah tugu perang dunia II di Pulau Numfor, monument perang dunia II Paray Distrik Biak Kota, tugu Pepera di Jalan Sriwijaya Ridge Distrik Samofa. Sementara objek sejarah lainnya berupa tugu 14 Maret di Jalan Sorido Distrik Biak Kota sebagai simbol perjuangan pemuda Biak melawan kolonial Belanda.
Sayang hal itu tidak dilakukan dari dulu-dulu, yang ada saat ini justru kebalikannya. Nasib tugu perang Pasific di Biak itu, rusak. Bagian atasnya pecah dan hilang. Yang menyedihkan lagi, oleh warga sekitar di Jalan Pramuka dipakai menjemur pakaian, menjemur kasur bahkan garasi motor. Menyedihkan memang. (END/FOTO : IST)